pendidikan-islam

Lembaga Pendidikan Islami Berakhlak dan Terintegrasi

 

pendidikan-islam

Oleh: Ilisya P.I.

Manusia  adalah objek dari pendidikan, sehingga hakekat manusia, harus menjadi hakekat pendidikan. Hakekat manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki unsure jasmani, rohani, dan akal, dengan intinya adalah iman yang terdapat dalam qalbu. Berpangkal dari hakekat manusia, maka hakekat pendidikan adalah menancapkan iman dalam qalbu manusia, sehingga akan terwujud dalam jasmani, rohani, dan akal manusia. Itulah yang dinamakan memanusiakan manusia. Tujuan pendidikan berdasarkan hakekat pendidikan adalah menghasilkan manusia yang sehat jasmani, rohani, dan akal, serta berakhlak mulia. Atau dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia yang baik yaitu berakhlak baik, berpengetahuan baik atau berketerampilan yang kompetitif, menghargai keindahan, dan sehat jasmani.

Pembinaan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia dan menjadikan manusia menjdi manusia yang lebih baik. Sehingga pembinaan dan pengembangan pendidikan harus mencakup aspek budi pekerti, pengetahuan (sains, filsafat), seni, olahraga, yang berinti Al-Qur’an dan al-Hadits. Keempat aspek ini harus tercakup pada kurikulum yang dikembangkan di lembaga pendidikan Islami.

Lembaga pendidikan Islami baik formal maupun non formal, sepatutnya menjadi lembaga pendidikan yang harus lebih banyak dikembangkan dan menjadi unggulan diantara lembaga-lembaga pendidikan konvensional, karena dalam lembaga pendidikan Islami tidak hanya mendidik murid untuk cerdas dan terampil, tapi juga beriman, berakhlak mulia dan sehat jasmani (itu pada hakekatnya), walaupun pada kenyataan sekarang, lembaga pendidikan Islami masih banyak yang terbawa arus sekuler, yang lebih mengagungkan kurikulum barat.

Inti dari kebobrokan moral yang terjadi di jaman ini adalah kebobrokan akhlak manusia yang tentunya merupakan hasil dari kesalahan sistem pendidikan yang tidak mengembangkan kurikulum pendidikan berdasarkan pada hakekat manusia, sehingga banyak dilahirkan kecerdasan mansuia, tapi belum tentu manusia yang cerdas atau meghasilkan keterampilan manusia yang belum tentu manusia yang terampil. Pendidikan akhlak seyogyanya terprogram dalam lembaga pendidikan Islami, tetapi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama atau guru akidah akhlak. Pendidikan akhlak harus menjadi program seluruh komponen dalam lembaga pendidikan Islami, kepala sekolah, guru-guru, staff tata usaha, penjaga sekolah, bahkan sampai pedagang-pedagang yang mangkal di lembaga pendidikan tersebut. Seluruh komponen sekolah harus bekerjasama untuk menerapkan akhlak. Akhlak bukan untuk diajarkan, tapi diaplikasikan. Akhlak bukan hanya tanggung jawab guru agama atau guru akidah akhlak, tapi merupakan tanggung jawab seluruh komponen lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan Islami yang baik adalah lembaga pendidikan yang dapat menjamin muridnya menjadi murid yang berbudi pekerti luhur.

Namun tuntutan jaman tidak hanya membutuhkan murid yang berakhlak mulia, penguasaan terhadap pengetahuan dan keterampilan juga sangat dibutuhkan. Sejauh ini, lembaga pendidikan Islami sudah dapat memenuhi kebutuhan output yang seperti itu, tetapi output yang dihasilkan masih berpandangan sekuler karena dalam penerapannya disekolah pun, masih terjadi dikotomistik ilmu pengetahuan, dimana ilmu  pengetahuan umum dipisahkan dengan ilmu pengetahuan agama. system dikotomistik ini pun tertanam dalam alam bawah sadar murid, bahwa ilmu pengetahuan umum tidak terlalu berhubungan atau bahkan tidak berhubungan dengan ilmu agama. diperparah lagi dengan masuknya kurikulum barat dan ilmu pengetahuan barat yang mengklaim bahwa ilmu-ilmu tersebut berasal dari mereka, bangsa barat. Ini semakin menjadikan  murid yakin bahwa bangsa barat lebih maju dan beradab dibandingkan bangsa timur atau nota bene orang-orang islam. Hal ini terjadi baik di lembaga pendidikan umum maupun lembaga pendidikan Islami.

Oleh karena itu diperlukan rekonstruksi kurikulum yang tidak dikotomistik, tapi terintegrasi antara ilmu pengetahuan umum dan agama yang tentu saja bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Opini ini sebenarnya sudah dibuka di ranah perguruan tinggi, namun sampai sekarang masih menjadi wacana, belum teraplikasi. Menurut saya, system terintegrasi harus ditanamkan sedini mungkin, mulai dari tingkat dasar (Madrasah Ibtidiyah/SD). Para pemegang kebijakan dan kaum intelektual muslim yang peduli terhadap pengetahuan Islam harus urun rembug untuk merumuskan kurikulum yang tepat yang terintegrasi antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama, sehingga dapat dihasilkan output yang berpengetahuan ilmu umum (sains dan social) Qur’ani dan kreatif, karena dapat mengembangkan ilmu lebih dalam lagi dari Al-Qur’an dan al_Kawn (alam semesta), tidak berpatok pada ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat.

Diharapkan dengan menerapkan pendidikan akhlak dan pendidikan ilmu pengetahuan yang terintegrasi antara ilmu umum (sains dan social) dan ilmu agama, akan datang kembali masa kejayaan peradaban Islam, dimana lahir kaum intelektual muslim yang berakhlak Islami dan cerdas. Generasi ini dapat mengembangkan ilmu-ilmu baru berdasarkan kajian-kajian dari al-Quran dan al-Kawn. Wallahu’alam bisawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *