Sejarah

Perintis awal berdirinya Madrasah Aliyah Daarul Uluum PUI Majalengka adalah merupakan rangkaian sejarah panjang, berawal dari langkah pasti yang dirintis oleh seorang tokoh karismatik “K.H.Abdul Halim” seorang putra Majalengka yang pernah mengeyam pendidikan non formal di Saudi Arabia bersama teman-teman seperjuangannya seperti Mas Mansyur (Muhamadiyah) K.H. Wahab Hasbullah (NU) dan KH. Ahmad Sanusi (PUII) sekitar tahun 1908.

Pengaruh pemikiran Jamaludin AL Afgani dan Rasyid Ridlo memberikan dorongan kuat dalam mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang berawal dari mendirikan sebuah Majlisul Ilmi yang diberi nama HAYATUL QULUB dari ini beliau mulai mengorganisir pra santrinya dan para mualim untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan formal yang bersifat klasikal dengan pola pembelajaran melalui para mualim sebagai Guru Vak menghantarkan sebuah perubahan mendasar pola pembelajaran sistem pesantren tradisional menjadi sebuah sistem persekolahan sehingga menjadikan Hayatul Qulub berganti nama menjadi “Madrasatut Tholibin Li Faroididiin” sebuah bentuk lembaga pendidikan baru yang menuntut banyak hal yang harus dipersiapkan baik sarpras maupun dana, langkah berikutnya beliau menggalang kekuatan disekitarnya untuk terlibat dalam persoalan pendidikan yang tengah dirilisnya, maka sebagai solusi didirikanlah sebiah lembaga lain yang diberi nama IANATUL MUTA’ALIMIN sebagai kelompok stakeholder yang sangat berarti bagi tumbuhnya sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan mencerdaskan kehidupan umat.

Tidak sia-sia dengan tidak lebih dari 8 tahun saja telah melahirkan simpatisan dan penerus cita-cita pada tahun 1920 telah berdiri 36 madrasah di keresidenan Cirebon baik yang dirintis oleh santrinya ataupun para pengikutnya.

Sejalan dengan semangat perjuangan putra bangsa yang tengah menuntut kemerdekaan, kedekatan dengan HOS Cokroaminito sebagai Tokoh SI maka mengharuskan umat untuk tidak hanya berpikir tentang lembaga pendidikan formal saja maka perubahan Ianatul Muta’alimin berganti peranan menjadi sebuahg Organisasi masa Islam PO (Persyarikatan Oelama) adalah cukup berasan saat itu memang diperlukan wadah perjuangan bagi kemajuan bangsa baik melalui perjuangan politik maupun sosial keagamaan, kehadiran K.H. Abdul Halim dipanggung perjuangan lebih menekankan pada hal yang kedua, itupun beliau tidaklah sepi dari pengintaian gerak-geriknya oleh mata mata Belanda karena kedekatannya dengan HOS Cokroaminoto dan sikap PO yang non kooperatif dengan Belanda, segala bentuk subsidi untuk madrasah yang diberikannya ditolaknya.

Dengan keyakinan teguh yang ditanamkan melalui semangat juang yang tinggi dalam mencari keridhoan Allah dan diungkapkan dengan INTISAB sebagai landasan moral para pengikutnya agar terciptanya kesinambungan perjuangan bagi setiap generasi yang tumbuh dibelakangnya khususnya bagi para siswa di madrasah Tholibin yang akan dijadikan basis perjuangan tempat percetakan kader organisasi, umat bangsa Indonesia dimasa depan.

Madrasah Tholibin yang semula hanya dipersiapkan bagi para siswanya untuk mengikuti jenjang pendidikan selama 7 tahun, kini dipersiapkan lagi jenjang berikutnya yakni Kweek School (Sekolah Guru/Madrasah Mualimin) dengan masa belajar 1 tahun untuk Voorklas dan 4 tahun untuk kweek school, siswa banyak berdatangan dari sekitar Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Pare-par, lampung dan Sumsel sebuah bentuk kepercayaan yang tumbuh sejalan dengan kemampua lembaga melahirkan SDM yang siap terjun ke Masyarakat.

Di dalam kongres pendidikan PO khususnya yang lebih memfokuskan kepada peningkatan peran Kweek School sebagai madrasah yang lebih memeprsiapkan calon-calon guru yang memiliki wawasan keilmuan serta memiliki kreatifitas yang tinggi (santri lucu) kongres memutuskan untuk memberi nama baru bagi lembaga pendidikan yang satu ini sehingga sejak tanggal 20 November 1932 atau bertepatan dengan tanggal 2 rajab 1351 Kweek School PO bernama Madrasah Mualimin Daarul Uluum atau Sekolah Guru Islam (SGI) Daarul Uluum PUI. Sebuah lembaga Pendidikan yang salah satu tujuannya adalah menciptakan calon guru, terusa berjalan dengan mengikuti aturan pemerintah kemudian para siswa yang telah mencapai pendididkan sampai tingkat akhir mengikuti ujian PGA.

Pola ini terus berjalan sampai pada tahun 1980 terjadi alihan fungsi besar-besaran bagi sekolah keguruan untuk merubah dirinya menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah.   Sejak itulah MA. Daarul Uluum menjadikan dirinya sebagai sekolah umum yang bercirikan Islam dengan tetap pelajaran keguruan dijadikan sebagai mata pelajaran mulok, dan kini sebuah tantangan masa depan yang cukup berat pasca MA Daarul Uluum termasuk ke dalam Madrasah STEP 2 IDB dari 30 madrasah se Indonesia yang mendapat bantuan sarana dan prasarana laboratorium MIPA dengan life skill di bidang elektro dan desain grafis menuntut Daarul uluum untuk menjadikan dirinya sebagai Center of Excellent bagi madrasah-madrasah di lingkungan PUI pada khususnya dan Madrasah lainya pada umumnya.

Kita adalah bagian dari sejarah serta pelaku sejarah, dan penilaian akhirnya adalah bagaimana kita bisa menjadikan diri kita berguna bagi kehidupan ini

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi yang lainnya”